Sejarah Cirebon Yang Perlu Anda Ketahui

Sejarah Cirebon yakni kota berintan (Bersih, Indah, Tertib dan Aman). Kota yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini merupakan kota yang strategis sebagai penghubung antara pulau. Maka tak heran sebagai kota yang letaknya strategis diantara kedua provinsi tersebut, Cirebon sering disinggahi oleh banyak orang yang akan bepergian di kedua provinsi tersebut.

Bagaimana Asal Sejarah Kota Cirebon ?

Sejarah Cirebon berasal dari kata “sarumban”, kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berkembang menjadi kata “Cerbon”, dan hasilnya menjadi kata “Cirebon”. Para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.

Kata “Cirebon” berdasarkan kiratabasa dalam Bahasa Sunda berasal dari “Ci” artinya “air” dan “rebon” yaitu “udang kecil” sebagai materi pembuat terasi. Perkiraan ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa dari dahulu hingga sekarang, Cirebon merupakan penghasil udang dan terasi yang berkualitas baik.

Tau kah anda Cirebon dan sejarahnya ?

Sejarah Cirebon memiliki pemikiran Islamnya yang sangat kuat,  sehingga Cirebon mempunyai banyak pesantren. Di daerah Gunung jadi berdiri  pesantren yang bernama Gunung Jati yang dipimpin oleh Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati). Di pesantren inilah Pangeran Walangsungsang (putra raja Pajajaran, Prabu Siliwangi) dan adiknya, Nyai Rara Santang, pertama kali mendapat pendidikan agama Islam.

Pada awal kala ke-16, Cirebon masih di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Walangsungsang ditempatkan oleh raja Pajajaran sebagai juru labuhan di Cirebon. Ia bergelar Cakrabumi. Setelah cukup kuat, Walangsungsang memproklamasikan kemerdekaan Cirebon dan bergelar Cakrabuana. Ketika pemerintahannya telah kuat, Walangsungsang dan Nyai Rara Santang melakukan ibadah haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah ia memindahkan sentra kerajaannya ke Lemahwungkuk. Di sanalah kemudian didirikan keraton gres yang dinamakannya Pakungwati.

 

Siapakah Pendiri wilayah Cirebon ?

Pendiri Cirebon yaitu Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya menjadi sebuah kesultanan yakni Syarif Hidayatullah yang oleh Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga menyampaikan bahwa Sunan Gunung Jati yakni keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.

Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mensugesti kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam. Ia menyebarkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

Baja juga informasi tentang Cirebon : klik disini

Setelah Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka Caruban Nagari tahun 1568), beliau digantikan oleh cucunya yang populer dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada di bawah efek Mataram. Kendati demikian, relasi kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram. Pada tahun 1590, raja Mataram, Panembahan Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon. Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci alasannya Cirebon lebih dahulu mendapatkan Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa.

Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya hingga pada masa Pnembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom). Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta, mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga).

Perpecahan tersebut mengakibatkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi perlindungan VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi kudeta di antara kedua putranya. Keadaan demikian menimbulkan kedudukan VOC semakin kokoh. Dalam Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan bahwa Cirebon berada di bawah pengawasan eksklusif VOC.

Cirebon dan kekayaan alamnya ?

Sebagai kota yang letaknya strategis mengakibatkan Cirebon banyak disinggahi oleh para pedagang. Pada awal kala ke-16 Cirebon dikenal sebagai kota perdagangan terutama untuk komoditas beras dan hasil bumi yang diekspor ke Malaka. Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita wacana hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, yakni Medez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda dibawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang tiba ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif besar lengan berkuasa yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan. Pada tahun 1800 Residen Waterloo mencoba menciptakan pipa jalan masuk air yang mengalir dari Linggajati, tetapi hasilnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 3 perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon. Pada tahun 1877, di sana sudah berdiri pabrik es, dan pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada awal kala ke-20, Cirebon merupakan salah satu dari lima kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya yakni beras, ikan, tembakau dan gula.

Cirebon sebagai sentra agama di Jawa Barat

Cirebon dikenal dengan kota wali. Cirebon dikenal pula sebagai sentra keagamaan di Jawa Barat alasannya di Cirebon banyak didirikan pesanteren-pesantren yang merupakan sentra penyebaran agama Islam. Peranan historis keagamaan yang dijalankan Sunan Gunung Jati tak pernah hilang dalam kenangan masyarakat. Pendidikan keagamaan di Cirebon terus berkembang. Selain itu, pada kala ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang kegiatan-kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian. Hal ini antara lain terbukti dari acara karang-mengarang suluk, nyanyian keagamaan Islam yang bercorak mistik. Di samping itu, pesantren-pesantren yang pada masa awal Islam berkembang di tempat pesisir pulau Jawa hanya bertahan di Cirebon; selebihnya mengalami kemunduran atau pindah ke pedalaman.

Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan efek pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan hingga sekarang. Meskipun tidak mempunyai pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan Cirebon. Misalnya, melakukan Panjang Jimat (peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.

Itulah sejuta pesona kota kelahiran saya, kota yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Sebagai kota yang letaknya strategis sebagai penghubung antar provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, maka tidak heran kalau Cirebon banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Kehidupan beragamanya pun bagus. Karena dikenal sebagai kota wali, maka penduduk Cirebon dikenal dengan masyarakat yang kental dengan acara keagamaannya. Selain banyak didirikan pesantren-pesantren, Cirebon juga mempunyai 3 Keraton, yaitu Kasepuhan, Kacirebonan, dan Kanoman. Makam Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama Islam di kota Cirebon selalu banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun wisatawan asing.

Karena sudah populer ke mancanegara, maka Cirebon selalu menjaga tradisi dan melestarikan wilayahnya biar terlihat bagus dan memesona. Kebudayaan tradisional tetap dilestarikan, mirip panjang jimat yang selalu diperingati setiap Maulud Nabi. Selain itu budaya-budaya lainnya mirip kesenian tempat (Sintren, tari topeng, sandiwara tarling) tetap dilestarikan. Batik megamendung yang merupakan warisan nenek moyang tetap diakui oleh masyarakat Cirebon sebagai ciri khas milik masyarakat Cirebon.

Makanan-makanan yang menggugah selera mirip nasi Jamblang, Empal Gentong, Docang, Mie Koclok Nasi lengko akan menggugah selera pengecap untuk merasakan kuliner khas Cirebon. Itulah Cirebon, kota yang strategis, yang kaya akan budaya nenek moyangnya, kota yang populer dengan sentra penyebaran agama Islamnya dulu, kota yang kental dengan kesenian tradisionalnya, juga kota yang populer dengan batik tulis dan kuliner yang menggugah selera akan selalu dirindukan oleh siapa saja yang sudah berkunjung ke wilayah ini.



Sending
User Review
5 (1 vote)
9 Shares

0 thoughts on “Sejarah Cirebon Yang Perlu Anda Ketahui

  1. Pingback: Daftar Universitas Di Cirebon Terbaru dan Update – Cirebon News

  2. Pingback: 5 Destinasi Tempat Wisata Malam Cirebon Yang Wajib Dikunjungi | Cirebon News

Add Comment